Selasa, 23 Oktober 2012

Macam Gaya Kepemimpinan

Macam Gaya Kepemimpinan : Kepemimpinan Autokratis, Kepemimpinan Demokratis dan Kepemimpinan Laissez-Faire (Kendali Bebas)
Dari penelitian yang dilakukan Fiedler yang dikutip oleh Prasetyo (2006)ditemukan bahwa kinerja kepemimpinan sangat tergantung pada organisasi maupun gaya kepemimpinan (p. 27). Apa yang bisa dikatakan adalah bahwa pemimpin bisa efektif ke dalam situasi tertentu dan tidak efektif pada situasi yang lain. Usaha untuk meningkatkan efektifitas organisasi atau kelompok harus dimulai dari belajar, tidak hanya bagaimana melatih pemimpin secara efektif, tetapi juga membangun lingkungan organisasi dimana seorang pemimpin bisa bekerja dengan baik.
Lebih lanjut menurut Prasetyo (p.28), gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan dalam proses kepemimpinan yang diimplementasikan dalam perilaku kepemimpinan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Selain itu menurut Flippo (1987), gaya kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai suatu tujuan tertentu (p. 394).
Menurut University of Iowa Studies yang dikutip Robbins dan Coulter (2002), Lewin menyimpulkan ada tiga gaya kepemimpinan; gaya kepemimpinan autokratis, gaya kepemimpinan demokratis, gaya kepemimpinan Laissez-Faire (Kendali Bebas) (p. 406)

Gaya Kepemimpinan Autokratis
Menurut Rivai (2003), kepemimpinan autokratis adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya, sehingga kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam organisasi (p. 61).
Robbins dan Coulter (2002) menyatakan gaya kepemimpinan autokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung memusatkan kekuasaan kepada dirinya sendiri, mendikte bagaimana tugas harus diselesaikan, membuat keputusan secara sepihak, dan meminimalisasi partisipasi karyawan (p. 460).
Lebih lanjut Sukanto (1987) menyebutkan ciri-ciri gaya kepemimpinan autokratis (pp. 196-198):

1. Semua kebijakan ditentukan oleh pemimpin.
2. Teknik dan langkah-langkah kegiatannya didikte oleh atasan setiap waktu, sehingga langkah-langkah yang akan datang selalu tidak pasti untuk tingkatan yang luas.
3. Pemimpin biasanya membagi tugas kerja bagian dan kerjasama setiap anggota.
Sedangkan menurut Handoko dan Reksohadiprodjo (1997), ciri-ciri gaya kepemimpinan autokratis (p. 304):
1. Pemimpin kurang memperhatikan kebutuhan bawahan.
2. Komunikasi hanya satu arah yaitu kebawah saja.
3. Pemimpin cenderung menjadi pribadi dalam pujian dan kecamannya terhadap kerja setiap anggota.
4. Pemimpin mengambil jarak dari partisipasi kelompok aktif kecuali bila menunjukan keahliannya

Gaya kepemimpinan Demokratis / Partisipatif
Kepemimpinan demokratis ditandai dengan adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri (Rivai, 2006, p. 61).
Menurut Robbins dan Coulter (2002), gaya kepemimpinan demokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung mengikutsertakan karyawan dalam pengambilan keputusan, mendelegasikan kekuasaan, mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimana metode kerja dan tujuan yang ingin dicapai, dan memandang umpan balik sebagai suatu kesempatan untuk melatih karyawan(p. 460). Jerris (1999) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang menghargai kemampuan karyawan untuk mendistribusikan knowledge dan
kreativitas untuk meningkatkan servis, mengembangkan usaha, dan menghasilkan banyak keuntungan dapat menjadi motivator bagi karyawan dalam bekerja (p.203).
Ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis (Sukanto, 1987, pp. 196-198):
1. Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin.
2. Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat, dan jika dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat dipilih.
3. Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok.
Lebih lanjut ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis (Handoko dan Reksohadiprodjo, 1997, p. 304):
1. Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.
2. Menekankan dua hal yaitu bawahan dan tugas.
3. Pemimpin adalah obyektif atau fact-minded dalam pujian dan kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan.

Gaya Kepemimpinan Laissez-faire (Kendali Bebas)
Gaya kepemimpinan kendali bebas mendeskripsikan pemimpin yang secara keseluruhan memberikan karyawannya atau kelompok kebebasan dalam pembuatan keputusan dan menyelesaikan pekerjaan menurut cara yang menurut karyawannya paling sesuai (Robbins dan Coulter, 2002, p. 460).
Menurut Sukanto (1987) ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas (pp.196-198) :
1. Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu dengan partisipasi minimal dari pemimpin.
2. Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan oleh pemimpin yang membuat orang selalu siap bila dia akan memberi informasi pada saat ditanya.
3. Sama sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan tugas.
4. Kadang-kadang memberi komentar spontan terhadap kegiatan anggota atau pertanyaan dan tidak bermaksud menilai atau mengatur suatu kejadian.
Ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas (Handoko dan Reksohadiprodjo, 1997, p. 304):
1. Pemimpin membiarkan bawahannya untuk mengatur dirinya sendiri.
2. Pemimpin hanya menentukan kebijaksanaan dan tujuan umum.
3. Bawahan dapat mengambil keputusan yang relevan untuk mencapai tujuan dalam segala hal yang mereka anggap cocok.

    Contoh Tokoh :

Tipe tokoh yang saya post adalah Bapak Joko Widodo (JOKOWI) selama memimpin kota Solo sebagai Walikota.

Jokowi Pemimpin Otentik yang Melayani

Jokowi adalah pemimpin otentik yang siap melayani setiap warganya tanpa basa-basi. Ketika pertama kali menginjakkan kakinya di balaikota Solo yang terpikirkan olehnya pertama kali adalah bagaimana mengubah perilaku birokrasi maupun perilaku masyarakat Solo. Dan di sinilah kehebatan seorang Jokowi benar-benar terbukti.

Untuk mengubah perilaku birokrasi, Jokowi melakukan reformasi sistem pelayanan. Birokrat yang tidak bisa mengikuti sistemnya terpaksa di tinggal. Agar sistem yang di bangunnya tersebut benar-benar berjalan sesuai relnya, maka Jokowi selalu melakukan pengawasan langsung di lapangan. Waktu Jokowi justru di habiskan di lapangan dengan tujuan untuk mengetahui langsung kemajuan dan kekurangan sistem pelayanan publik yang di bangunnya.

Reformasi pelayanan publik seperti kependudukan, perizinan, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya menjadi prioritas Jokowi di awal kepemimpinannya. Suksesnya program KTP 1 jam, menginspirasi Jokowi untuk memperbaiki pelayanan kependudukan tersebut dengan program KTP 5 menit. Menurut Jokowi, program pelayanan super cepat ini di jamin akan mampu menghilangkan pungutan liar.

Jokowi juga sukses membongkar ribetnya perizinan. Sebagai pebisnis yang terbiasa bekerja cepat dan efisien, Jokowi hadir dengan membawa semangat perubahan bahwa semua perizinan harus di buat mudah dan cepat. Berkat kesuksesannya mereformasi perizinan di kota Solo, Jokowi pun di anugerahi berbagai penghargaan diantaranya:

1. World Bank dalam bidang Kota Terbaik dalam kemudahan berbisnis.

2. Presiden SBY juga mengapresiasi kinerja Jokowi dengan memberi penghargaan dalam bidang Pelopor Inovasi Pelayanan Prima,

3. Kementrian Pendayagunaan aparatur Negara juga memberi penghargaan Piala Citra Bidang Pelayanan Prima.

4. Kementerian dalam negeri juga memberikan penghargaan Walikota Terbaik kepada Jokowi atas kepemimpinannya di Kota Solo.

Sebagai seorang pebisnis sukses, Jokowi selalu mengukur kinerjanya dengan parameter yang sangat terukur. Secara umum, Jokowi membangun Solo dengan manajemen bisnis yang di bagi dalam 3 tahapan yaitu manajemen produk, manajemen brand, dan manajemen pelanggan (Gado-gado kerikil Jokowi, Anas Syahirul dkk).

Pada tahap manajemen produk, pembangunan di tekankan pada pelayanan dan infrastruktur di antaranya penyediaan fasilitas publik, revitalisasi pasar tradisional, penataan dan pemberdayaan PKL, kemudahan perizinan dan sebagainya.Pada tahap manajemen brand, pembangunan di tekankan pada pencitraan kota Solo berbasiskan pada ciri khas budaya. Solo the spirit of Java dan Solo Past is Solo Future adalah bagian dari membangun kota Solo sebagai ikon Jawa dan penegasan bahwa Solo di bangun berbasiskan budaya lokal yang khas.  Pada tahapan manajemen pelanggan, Jokowi membangun sistem manajemen dengan target kenyaman dan kepuasan pelanggan. Adanya program “rembuk kampung” dan “rembuk kutho” juga memberikan inspirasi bagi Jokowi untuk selalu meningkatkan pelayanan publik. Pada program temu muka dan silaturahmi dengan warga tersebut semua keluhan warga tentang pelayanan publik dapat segera di selesaikan.


Sumber :
 http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/10/macam-gaya-kepemimpinan-kepemimpinan.html
 http://adv.blogupp.com/nextblog/korpri-dephan.blogspot.com
 http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/06/16-pengertian-kepemimpinan/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar